Rasyid, Pelaku Usaha Pakan Mandiri Dari Pangkep.

63

Pangkep_Namanya Pak Rasyid, seorang petambak yang tinggal di Pakkang Kelurahan Bawasalo Segeri Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan.  Awalnya beliau adalah pembudidaya udang dan ikan di tambak dengan teknologi tradisional di kampungnya.  Pengalaman berbudidaya sejak tahun 2000 an menjadikan Pak Rasyid mengetahui betul kebutuhan operasional budidaya, salah satu yang terbesar yaitu kebutuhan pakan.  Sejak tahun 2005, Pak Rasyid sudah memulai untuk membuat pakan sendiri untuk kebutuhan budidayanya.  Berbekal pengetahuan sendiri, beliau memulai membuat pakan dengan peralatan mesin sekedarnya dan memodifikasi peralatan tersebut.  Penggunaan bahan baku pakan pun dibeli tanpa memperhitungkan komposisi nutrisimya.  Alhasil pakan pun dapat dibuat walaupun tanpa mengetahui formula bahan baku dan komposisi nutrisi pakan yang dibuatnya.

Hingga tahun 2014, tim Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAP3) melakukan kegiatan litbang di kampung Pak Rasyid.  Litbang tersebut untuk difusi teknologi ke masyarakat tentang teknologi budidaya tradisional plus di tambak masyarakat.  Pak Rasyid termasuk pembudidaya yang mengikuti kegiatan tersebut.  Namun salah seorang peneliti BRPBAP3 melihat adanya mesin pakan yang terlihat berdebu seperti tidak digunakan di rumah Pak Rasyid.  Diskusi pun berlanjut tentang mesin tersebut.  Ternyata mesin tersebut didapatkan Pak Rasyid dari bantuan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pangkep, namun belum dioptimalkan oleh beliau karena kurang memahami cara pemakaian yang benar.  Akhirnya difusi teknologi pun berkembang membahas tentang formulasi dan pembuatan pakan ikan dan udang.  Sejak saat itu, tim BRPBAP3 aktif melakukan pendampingan formulasi dan pembuatan pakan kepada Pak Rasyid.  Ketua Kelompok Peneliti Nutrisi dan Teknologi Pakan BRPBAP3, Dr. Ir. Usman bersama peneliti nutrisi, Kamaruddin, S.Pi, M.Si sampai sekarang aktif mendampingi Pak Rasyid.

“Sejak bimbingan yang dilakukan tim Balai tahun 2014, sampai sekarang (2018), saya terus didampingi oleh Pak Usman dan Pak Kama”tutur Pak Rasyid.  “Awalnya saya diajari bagaimana memilih bahan baku yang mudah didapatkan di kampung saya, jadi biayanya murah.  Mulai dari ikan rucah, ikan Mujair di tambak, bahkan cangkang kepiting saya kumpulkan dan olah menjadi bahan baku”tambahnya.  Proses pemilihan bahan baku lokal, formulasi bahan baku, penggunaan peralatan, pembuatan pakan dan analisis kandungan proksimat pakan didampingi oleh Pak Usman dan tim.

“Pak Rasyid termasuk orang yang aktif dan tekun menjalani usaha pembuatan pakan. Beliau rajin komunikasi dan berkunjung ke Balai”ungkap Kamaruddin, peneliti nutrisi BRPBAP3.  “Kami menyampaikan hasil-hasil penelitian yang telah kami lakukan, sehingga dapat diterapkan oleh Pak Rasyid di lapangan.  Salah satu hal penting yaitu bagaimana menjaga kualitas nutrisi pakan, seperti kandungan proteinnya, dan nilai proksimat lainnya.  Dengan demikian, konsumen pakan Pak Rasyid akan puas menggunakan pakan tersebut” tambahnya.

Kunjungan monitoring tim BRPBAP3 pada hari Sabtu, 3 November 2018, berhasil menghimpun informasi bahwa tim Kelti Nutrisi dan Teknologi Pakan BRPBAP3 melakukan pendampingan ini secara rutin dan seringkali menganalisis sampel pakan di laboratorium untuk uji mutu kualitas pakan.  Kemampuan Pak Rasyid mengidentifikasi ketersediaan bahan baku disekitar kampungnya sehingga tidak kesulitan bahan baku dan penanganan bahan tersebut untuk membuat pakan.  Beberapa bahan memang didapatkan dari proses pembelian, seperti minyak ikan.  Dari proses pembuatan pakan, biaya operasional yang dikeluarkan oleh Pak Rasyid sekitar Rp. 3.750,- untuk per Kilogram pakan.  Sementara kapasitas produksi yang dimiliki bisa menghasilkan 250 – 500 kg pakan per hari.  Jumlah hari kerja per bulan sekitar 21 hari, dengan demikian total produksi per bulan mencapai 5 – 10 ton pakan per bulan.

Harga jual pakan tersebut yang dilabel dengan brand “pakan ikan dan udang Samaturu” berkisar Rp. 5.000 – 6.000,- per Kg.  Dengan demikian pendapatan kotor per bulan yaitu   31 juta Rupiah –  63 juta Rupiah.  Keuntungan bersih pun dapat dicapai sekitar 11 juta Rupiah – 23 juta Rupiah per Bulan.  Keuntungan tersebut menjadi bukti peningkatan ekonomi dari kegiatan pendampingan teknologi pembuatan pakan dengan memanfaatkan bahan baku lokal, sehingga biaya operasional dapat ditekan, namun mutu pakan terutama kandungan protein dapat terjaga.  Sticker promosi pakan Pak Rasyid pun sudah mencantumkan kalimat “Di bina oleh Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan”.

Bagaimana konsumen dari pakan buatan Pak Rasyid tersebut? Salah seorang pembudidaya di kampung yang sama, bernama Pak Eca berhasil diwawancarai.  Sejak tahun 2015 sampai sekarang Pak Eca menjadi pelanggan tetap Pak Rasyid.  Pada tambaknya seluas 1 Ha, beliau melakukan polikultur teknologi tradisional untuk komoditas Udang Windu, Udang Vaname dan Ikan Bandeng.  Menggunakan pakan Pak Rasyid, beliau dapat menghasilkan Udang Windu sebanyak 100 kg,  Udang Vaname sebanyak 200 – 300 kg, dan Ikan Bandeng sebanyak 1 ton.  “Produksi tersebut untuk 1 siklus produksi selama kurang lebih 3 – 4 bulan.  Biasanya produksi dilakukan sebanyak 2 – 3 kali dalam satu tahun”Ungkap Pak Eca.

Selain konsumen dari kampung sendiri, pakan Pak Rasyid juga telah digunakan pembudidaya di Kecamatan lainnya, yaitu Kecamatan Ma’rang, Kecamatan Segeri.  Total pembudidaya yang telah menggunakan pakan tersebut sekitar 50 orang, dimana masing-masing mengelola tambak seluas 0.5 – 2 Hektar.  “Rata-rata mereka (pembudidaya) menggunakan pakan buatan saya sejak tahun 2015 sampai sekarang” tutur Pak Rasyid.  Informasi mengenai pakan tersebut beredar luas dari mulut ke mulut diantara pembudidaya.

Dibandingkan dengan pakan serupa yang tersedia di sekitar kampung Pak Rasyid, terdapat perbedaan dari sisi harga, dimana pakan komersil dibandrol dengan harga Rp. 7.000 – 8.000 per Kg.  Selain itu, pakan tersebut didapatkan dari toko yang letaknya cukup jauh, sehingga kurang efektif dari segi transportasi pakan.  Dari segi kualitas, pakan yang dibuat oleh Pak Rasyid  diakui lebih baik dibanding pakan komersil lainnya.   Saat ini, Pak Rasyid telah banyak mendapatkan pendampingan dari instansi lain untuk memperbaiki bisnis proses yang dilakoninya.  Beberapa bantuan terlihat di rumah sekaligus sebagai pabrik mini pakan beliau.  “Kadang permintaan yang banyak sehingga harus melalui sistem pemesanan, apalagi ketika musim budidaya”jelas Pak Rasyid.  Perbaikan kualitas yang diperlukan berupa perbaikan sistem sanitasi berupa gudang bahan baku, gudang pakan, tempat pengeringan, pengadaan peralatan oven untuk pengeringan.  “Saya menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT karena dapat terus didampingi oleh tim Pak Usman, sehingga saya tidak kesulitan untuk konsultasi mengenai bahan baku dan menjaga kualitas pakan saya” ungkap Pak Rasydi di akhir diskusi.