Beranda blog

Rekrutmen Tenaga Kontrak Tahun Anggaran 2018

Dalam rangka memenuhi kebutuhan tenaga kerja tahun 2018, dengan ini diberitahukan bahwa Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan membuka lowongan kerja sebagai Tenaga Kontrak selama 1 (satu) tahun. Adapun jenis formasi dan persyaratan Tenaga Kontrak tersebut adalah sebagai berikut: (Download info lengkap)

Dukungan Pemerintah Kabupaten Barru Untuk INTAN-AP PANDU

Barru_Program minapadi yang dipadu dengan budidaya udang yang disebut Inovasi Teknologi Adaptif Perikanan Minapadi Air Payau Padi Udang Windu (INTAN-AP.PANDU) teknologi yang dipraskarsai oleh Pusat Riset Kelautan Perikanan dan Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan penyuluhan perikanan yang sudah berjalan beberapa bulan bahkan sudah dilakukan mulai dari peneabaran benih, penanaman bibit padi dan yang terkhir telah dilakukan penebaran bibit 4.200 ekor udang windu di lahan INTAN-AP PANDU tersebut.

Seiring dengan kegiatan itu bapak kepala Badan Riset Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) Sjarief Widjaja melakukan peninjauan langsung ke lahan yang pertama kali dilakukan di Indonesia sekaligus melakukan pertemuan dengan bapak Bupati Kabupaten Barru Suardi Saleh untuk melakukan pembicaraan mengenai tindak lanjut  INTAN-AP PANDU.Jumat/16/11/18

Dihadapan Bupati Barru, Kepala BRSDM menjelaskan bahwa lahan Minapadi Air Payau pada awalnya  merupakan lahan yang menganggur (idle) yang terjadi akibat intrusi air laut makanya lahan tersebut setelah dilakukan monitoring atau kajian oleh beberapa ahli baik dari BRPBAP3 Maros, Dinas Perikanan Kab. Barru BPP Sukamandi untuk dapat dimanfaatkan ,atas dasar tersebut pemerintah melalui Kementerian Kelautan Perikanan (KKP) dalam hal ini BRSDM mengembangkan teknologi dengan menginisiasi  program Minapadi yang merupakan integrasi dua teknologi menjadi suatu inovasi teknologi” jelas syarif.

Sementara pada kesempatan Bapak Bupati dalam arahannya menyampaikan ucapan banyak terima kasih kepada Kementerian Kelautan Perikanan, BRSDM, BRPBAP3 dan Dinas Perikanan Kab. Barru dan semua pihak yang terlibat yang menangani INTAN-AP, beliau berjanji pemerintah Kab. Barru akan mendukung kegiatan ini dan kedepannya lahan lahan yang tidak termanfaatkan akan dioptimalkan menggunakan teknologi INTAN-AP yang merupakan hal baru karna hasilnya sudah terlihat, di akhir kesemaptan , Suardi juga mengajak masyarkat khususnya para petambak untuk bisa mengadopsi tekhnologi ini” jelasnya.

 

 

 

 

 

Menuju Penetapan Pusat Unggulan Iptek Udang BRPBAP3 Melakukan Forum Evaluasi Kinerja Dan Penyelarasan Master Plan Tahun 2018

Maros_Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan Maros dalam rangka pengembangan Pusat Unggulan Iptek Tahun 2018 Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi mengembangkan skema dan mekanisme pembinaan bagi lembaga litbang dalam memperkuat kapasitas kelembagaan  yang mencakup sourcing capacity, R&D capacity dan dessiminating capacity,salah satu upaya yang dilakukan dalam mekanisme pembinaan adalah melaksanakan Forum Evaluasi Kinerja Dan Penyelarasan Master Plan Pusat Unggulan Iptek Udang 2018, Senin/12/11/18, yang berdasarkan surat dari sekretariat Kemenristekdikti nomor : 828/C2TU/2018 tentang pemberithuan agenda Forum Evaluasi Kinerja Dan Penyelarasan Master Plan Pusat Unggulan Iptek Udang 2018,

Pada kegiatan Forum Evaluasi ini dihadiri seluruh pegawai BRPBAP3, terdiri pejabat Struktural dan pejabat Fungsional, PLT Kepala BRPBAP3 Andi Indra Jaya Asaad, S.Pi.M.Sc yang membuka kegiatan ini secara resmi dengan diawali pemaparan tentang profil balai, juga hadir Kepala SubBag TU ,Kepegawaian, Keuangan Kepala Seksi Penyuluhan, Tata Operasional dan para Kakelti dan anggota Tim PUI.

Pada paparan capaian yang telah dihasilkan, Ketua PUI udang BRPBAP3 Prof.Dr. Ir. Rachmansyah, M.S., di sebutkan BRPBAP3 telah menyiapkan data dukung dan peningkatan strategi peningkatan yang masing masing dipaparkan oleh penanggung jawab sourcing-absorptive capacity, strategi peningkatan research and development capacity, dan strategi peningkatan disseminating capacity dan juga menjelaskan hasil capaian kerja sama sinergi lembaga PUI, yang telah dilakukan kontrak kerja sama sinergi PUI.

Sesuai kegiatan monev ini, tim supervisi, Tim Pakar yaitu Bapak Thomas Darmawan (Asosiasi Pengusaha Indonesia) dan Bapak Dr. Alimuddin (IPB) bersama Tim Sekretariat PUI Ristekdikti yaitu Ibu Leni Purwaningsih dan Ibu Umi Salama memberikan arahan untuk membangun strategi percepatan capacity Research dan Development sehingga pada akhirnya tercapai target-target yang diharapkan.

Di akhir penghujung acara ibu Umi Salama menjelaskan beberapa point point penting terutama persyaratan nilai yang di persyaratkan untuk mendapatkan penetapan Pusat Ungglan Iptek dan tata cara penguploadtan file data dukung.

 

 

 

Semarakkan Jambore PUI, BRPBAP3 Ekspose Hasil Riset Geospasial Tambak Di Pinrang

Pinrang, 9 November 2018.  Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAP3) Maros kembali menggelar ekspose hasil penelitian di kantor Dinas Perikanan Kabupaten Pinrang.  Kegiatan ini merupakan kerja sama dengan Dinas Perikanan Pinrang yang sudah tertuang dalam bentuk perjanjian kerja sama sejak tahun 2015.  Sebelumnya pada tahun 2016, kegiatan ekspose hasil penelitian juga dilakukan di Pinrang.

Pelaksanaan kegiatan ekspose pada tahun ini dilaksanakan pada hari Jumat, 9 November 2018 dirangkaikan dengan kegiatan Jambore Pusat Unggulan IPTEK.  BRPBAP3 memang dikenal sebagai Pusat Unggulan IPTEK Udang.  Turut hadir dalam ekspose tersebut, Bapak Bupati Pinrang Terpilih periode 2019 – 2024, H. Andi Irwan Hamid, S.Sos.  Kepala Dinas Perikanan, Bapak Ir. Andi Budaya, Asisten II, Kepala Bappeda, dan Kominfo Kabupaten Pinrang.  Tim dari BRPBAP3 yang hadir sebanyak 12 orang antara lain Plt Kepala BRPBAP3, A.Indra Jaya Asaad, S,Pi, M.Sc, Ir. Muharijadi Atmomarsono, M.Sc, Dr. Ir. Andi Parenrengi, Dr. Tarunamulia, Mudian Paena, S.Pi, M.Si, Ir. Erna Ratnawati, M.S, Rosmiati, A.Md, Kamariah, S.Si, Ruzkiah Asaf, S.Si, M,Si, Admi Athirah, S.Pi, M.Si, Laode Hafiz, Rahmiyah dan tim lainnya.  Selain itu, ekspose dihadiri sekitar 70 orang yang merupakan pembudidaya, pelaku usaha dan penyuluh perikanan.

Dalam sambutannya, Bapak Andi Irwan Hamid menyampaikan apresiasinya kepada BRPBAP3, para penyuluh, pembudidaya yang turut serta membangun perikanan di Pinrang. “Kegiatan nyata ini perlu didukung dan terus dilakukan untuk kejayaan produksi udang di Pinrang” ungkap Pak Andi Irwan.  “Hasil riset tahun ini sudah diwujudkan dalam bentuk aplikasi yang mudah diakses, saya harapkan dapat meliputi seluruh wilayah Kecamatan di Pinrang, dan dapat digunakan untuk pengambilan keputusan pemberian bantuan kepada masyarakat”lanjutnya.  Pada kesempatan yang sama, Bapak Andi Irwan Hamid melakukan launching aplikasi SIPETAK dengan penandatanganan dukungan untuk penyusunan dan pengembangan aplikasi tersebut.

Penelitian yang dilakukan sejak tahun 2016 dan berlanjut pada tahun 2018 mengambil tema aplikasi informasi geospasial untuk mendukung pengembangan budidaya tambak berkelanjutan.  Penelitian tersebut dipimpin oleh Dr. Tarunamulia, S.T, M.Sc, peneliti senior bidang geospasial di BRPBAP3 Maros.  Sebanyak 12 orang tim yang terdiri dari peneliti dan teknisi telah melaksanakan survei pengambilan sampel dan analisis data selama tahun 2018.  “Penelitian ini bertujuan untuk membangun prototype sistem informasi geospasial kawasan budidaya tambak lewat aplikasi WebGIS dan menghasilkan data dan informasi variasi spasio-temporal “tropic level” perairan di sekitar wilayah tambak” jelas Taruna.

Mengapa penelitian ini penting? Taruna menjelaskan bahwa pengelolaan kawasan budidaya tambak memerlukan evaluasi rinci faktor pembatas lingkungan serta aspek non-teknis.  Perlu pendekatan spasial untuk memudahkan visualisasi dan interpretasi untuk menjamin efektivitas penetapan kebijakan pengelolaan dan pengembangan.  Lebih lanjut, Taruna memaparkan bahwa sistem inventarisasi dan monitoring kawasan berbasis data geospasial yang dikelola dengan sistem informasi geografis (SIG atau GIS) (Hasil riset tahun 2016) terbukti efektif menyajikan isu dan fenomena status kualitas, pengelolaan dan pengembangan lahan di suatu kawasan tambak.

Penelitian dilakukan di Kecamatan Suppa Kabupaten Pinrang telah memetakan informasi teknis budidaya setiap petakan tambak, termasuk informasi turunan (Kebutuhan Kapur/Pupuk) dan informasi ketersediaan sarana produksi tambak.  Hal ini akan memudahkan user untuk mengetahui karakteristik tambak dengan bantuan piranti lunak yang juga dihasilkan dari penelitian ini.  Melalui penerapan WEB GIS, informasi tersebut disusun dengan sistematik dan dibuat dalam bentuk aplikasi yang dinamakan Sistem Informasi Pengelolaan Tambak (SIPETAK).  Aplikasi tersebut dapat diakses di http://sipetak.brpbap3maros.com.

Plt Kepala BRPBAP3 mengatakan kerja sama dengan Dinas Perikanan Kabupaten Pinrang akan terus ditindaklanjuti, salah satunya berupa penandatanganan lanjutan pada acara Science Innovation and Business Matching di Jakarta.  “Kegiatan riset dan pengembangan berupa pendampingan pembudidaya untuk budidaya di tambak secara ramah lingkungan juga dilakukan secara kontinyu di Pinrang” tutur Indra.  “Kegiatan tersebut berupa aplikasi probiotik RICA yang merupakan paten BRPBAP3.  Baru-baru ini, pihak Balai yang diwakili oleh peneliti senior, Ir, Muharijadi Atmomarsono, M.Sc melakukan pendampingan sekaligus pemantauan aplikasi probiotik di Pinrang”lanjutnya.

Kabupaten Pinrang memang menarik untuk dikaji dan sekaligus sebagai lokasi pengembangan budidaya tambak. Hal ini karena lingkungan perairan pesisir yang dinamis, kegiatan usaha budidaya yang kompleks mulai dari pembenihan hingga pembesaran, dan faktor keterbukaan pembudidaya untuk berkomunikasi serta kemauan untuk mengikuti perkembangan teknologi.  Selain itu, peran pihak aparatur, seperti Dinas Perikanan yang selalu mendukung penuh kegiatan riset dan pengembangan  yang dilakukan bukan hanya oleh BRPBAP3, tetapi juga instansi lainnya.

Perusahaan Jepang Jajaki Kerja Sama Dengan Pusat Unggulan IPTEK Udang

Maros, 8 November 2018.  Tetsuo Tamura, General Manager Hinomaru Sangyo CO, LTD didampingi penerjemah, Pak Doni mengunjungi Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAP3) Maros pada hari Kamis, 8 November 2018.  Kunjungan tersebut diawali informasi dari Ditjen Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan, Bapak Firman Syafei, S.Pi, Kepala Seksi Akses Perbankan kepada pihak Hinomaru Sangyo tentang kegiatan riset budidaya di BRPBAP3.  Tujuan kunjungan yang dilaksanakan di aula BRPBAP3 yaitu untuk memaparkan teknologi lingkungan dari Hinomaru Sangyo berupa Chelate Marin yang dapat diaplikasikan pada budidaya udang di tambak.  Selain itu Mr. Tamura juga membahas tentang peluang kerja sama dengan BRPBAP3 setelah mengetahui kapasitas BRPBAP3 dalam hal fasilitas dan tim peneliti di BRPBAP3.

Hadir dalam pertemuan tersebut, Prof Rachman Syah, Kepala Seksi Pelayanan Teknis dan Sarana dan para peneliti dari semua kelompok kajian penelitian di BRPBAP3.  Diskusi berlangsung menarik karena terkait langsung dengan kajian penelitian yang sedang berlangsung di BRPBAP3.  Diskusi diawali dengan paparan mengenai profil dan kegiatan utama Balai oleh Kasi Pelayanan Teknis dan Sarana.  Selanjutnya Mr. Tamura menyampaikan filosofi produk Chelate Marin, aplikasinya di Jepang dan hasil uji coba di Indonesia yang bekerja sama dengan BPPT.  Hal yang menarik untuk kajian lebih lanjut yaitu bagaimana proses reduksi beban limbah budidaya berupa bahan organik yang didominasi oleh Nitrogen dan Fosfat, termasuk untuk menjaga kondisi kualitas air seperti pH dan Alkalinitas.

Selain itu, Dr. Ince Ayu, peneliti kesehatan ikan dan lingkungan, mengungkapkan “curiosity” terhadap potensi dan daya hambat dari Chelate Marine untuk bakteri pemicu penyakit bagi udang di Tambak. “Sangat menarik untuk dikaji faktor apa yang menyebabkan Chelate Marin dapat mengurangi bakteri Vibrio dalam perairan” ungkap Ince Ayu.  Menanggapi hal tersebut, Mr. Tamura mendukung kajian baik pada skala laboratorium maupun skala lapangan.  “Sangat dimungkinkan pelaksanaan kajian tersebut di Balai ini apalagi Balai ini juga sebagai Pusat Unggulan IPTEK Udang” jelas Tamura, “kami berharap melalui mekanisme kerja sama, hal tersebut dapat dibahas lebih detail dengan pihak Balai” sambungnya.

Rasyid, Pelaku Usaha Pakan Mandiri Dari Pangkep.

Pangkep_Namanya Pak Rasyid, seorang petambak yang tinggal di Pakkang Kelurahan Bawasalo Segeri Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan.  Awalnya beliau adalah pembudidaya udang dan ikan di tambak dengan teknologi tradisional di kampungnya.  Pengalaman berbudidaya sejak tahun 2000 an menjadikan Pak Rasyid mengetahui betul kebutuhan operasional budidaya, salah satu yang terbesar yaitu kebutuhan pakan.  Sejak tahun 2005, Pak Rasyid sudah memulai untuk membuat pakan sendiri untuk kebutuhan budidayanya.  Berbekal pengetahuan sendiri, beliau memulai membuat pakan dengan peralatan mesin sekedarnya dan memodifikasi peralatan tersebut.  Penggunaan bahan baku pakan pun dibeli tanpa memperhitungkan komposisi nutrisimya.  Alhasil pakan pun dapat dibuat walaupun tanpa mengetahui formula bahan baku dan komposisi nutrisi pakan yang dibuatnya.

Hingga tahun 2014, tim Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAP3) melakukan kegiatan litbang di kampung Pak Rasyid.  Litbang tersebut untuk difusi teknologi ke masyarakat tentang teknologi budidaya tradisional plus di tambak masyarakat.  Pak Rasyid termasuk pembudidaya yang mengikuti kegiatan tersebut.  Namun salah seorang peneliti BRPBAP3 melihat adanya mesin pakan yang terlihat berdebu seperti tidak digunakan di rumah Pak Rasyid.  Diskusi pun berlanjut tentang mesin tersebut.  Ternyata mesin tersebut didapatkan Pak Rasyid dari bantuan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pangkep, namun belum dioptimalkan oleh beliau karena kurang memahami cara pemakaian yang benar.  Akhirnya difusi teknologi pun berkembang membahas tentang formulasi dan pembuatan pakan ikan dan udang.  Sejak saat itu, tim BRPBAP3 aktif melakukan pendampingan formulasi dan pembuatan pakan kepada Pak Rasyid.  Ketua Kelompok Peneliti Nutrisi dan Teknologi Pakan BRPBAP3, Dr. Ir. Usman bersama peneliti nutrisi, Kamaruddin, S.Pi, M.Si sampai sekarang aktif mendampingi Pak Rasyid.

“Sejak bimbingan yang dilakukan tim Balai tahun 2014, sampai sekarang (2018), saya terus didampingi oleh Pak Usman dan Pak Kama”tutur Pak Rasyid.  “Awalnya saya diajari bagaimana memilih bahan baku yang mudah didapatkan di kampung saya, jadi biayanya murah.  Mulai dari ikan rucah, ikan Mujair di tambak, bahkan cangkang kepiting saya kumpulkan dan olah menjadi bahan baku”tambahnya.  Proses pemilihan bahan baku lokal, formulasi bahan baku, penggunaan peralatan, pembuatan pakan dan analisis kandungan proksimat pakan didampingi oleh Pak Usman dan tim.

“Pak Rasyid termasuk orang yang aktif dan tekun menjalani usaha pembuatan pakan. Beliau rajin komunikasi dan berkunjung ke Balai”ungkap Kamaruddin, peneliti nutrisi BRPBAP3.  “Kami menyampaikan hasil-hasil penelitian yang telah kami lakukan, sehingga dapat diterapkan oleh Pak Rasyid di lapangan.  Salah satu hal penting yaitu bagaimana menjaga kualitas nutrisi pakan, seperti kandungan proteinnya, dan nilai proksimat lainnya.  Dengan demikian, konsumen pakan Pak Rasyid akan puas menggunakan pakan tersebut” tambahnya.

Kunjungan monitoring tim BRPBAP3 pada hari Sabtu, 3 November 2018, berhasil menghimpun informasi bahwa tim Kelti Nutrisi dan Teknologi Pakan BRPBAP3 melakukan pendampingan ini secara rutin dan seringkali menganalisis sampel pakan di laboratorium untuk uji mutu kualitas pakan.  Kemampuan Pak Rasyid mengidentifikasi ketersediaan bahan baku disekitar kampungnya sehingga tidak kesulitan bahan baku dan penanganan bahan tersebut untuk membuat pakan.  Beberapa bahan memang didapatkan dari proses pembelian, seperti minyak ikan.  Dari proses pembuatan pakan, biaya operasional yang dikeluarkan oleh Pak Rasyid sekitar Rp. 3.750,- untuk per Kilogram pakan.  Sementara kapasitas produksi yang dimiliki bisa menghasilkan 250 – 500 kg pakan per hari.  Jumlah hari kerja per bulan sekitar 21 hari, dengan demikian total produksi per bulan mencapai 5 – 10 ton pakan per bulan.

Harga jual pakan tersebut yang dilabel dengan brand “pakan ikan dan udang Samaturu” berkisar Rp. 5.000 – 6.000,- per Kg.  Dengan demikian pendapatan kotor per bulan yaitu   31 juta Rupiah –  63 juta Rupiah.  Keuntungan bersih pun dapat dicapai sekitar 11 juta Rupiah – 23 juta Rupiah per Bulan.  Keuntungan tersebut menjadi bukti peningkatan ekonomi dari kegiatan pendampingan teknologi pembuatan pakan dengan memanfaatkan bahan baku lokal, sehingga biaya operasional dapat ditekan, namun mutu pakan terutama kandungan protein dapat terjaga.  Sticker promosi pakan Pak Rasyid pun sudah mencantumkan kalimat “Di bina oleh Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan”.

Bagaimana konsumen dari pakan buatan Pak Rasyid tersebut? Salah seorang pembudidaya di kampung yang sama, bernama Pak Eca berhasil diwawancarai.  Sejak tahun 2015 sampai sekarang Pak Eca menjadi pelanggan tetap Pak Rasyid.  Pada tambaknya seluas 1 Ha, beliau melakukan polikultur teknologi tradisional untuk komoditas Udang Windu, Udang Vaname dan Ikan Bandeng.  Menggunakan pakan Pak Rasyid, beliau dapat menghasilkan Udang Windu sebanyak 100 kg,  Udang Vaname sebanyak 200 – 300 kg, dan Ikan Bandeng sebanyak 1 ton.  “Produksi tersebut untuk 1 siklus produksi selama kurang lebih 3 – 4 bulan.  Biasanya produksi dilakukan sebanyak 2 – 3 kali dalam satu tahun”Ungkap Pak Eca.

Selain konsumen dari kampung sendiri, pakan Pak Rasyid juga telah digunakan pembudidaya di Kecamatan lainnya, yaitu Kecamatan Ma’rang, Kecamatan Segeri.  Total pembudidaya yang telah menggunakan pakan tersebut sekitar 50 orang, dimana masing-masing mengelola tambak seluas 0.5 – 2 Hektar.  “Rata-rata mereka (pembudidaya) menggunakan pakan buatan saya sejak tahun 2015 sampai sekarang” tutur Pak Rasyid.  Informasi mengenai pakan tersebut beredar luas dari mulut ke mulut diantara pembudidaya.

Dibandingkan dengan pakan serupa yang tersedia di sekitar kampung Pak Rasyid, terdapat perbedaan dari sisi harga, dimana pakan komersil dibandrol dengan harga Rp. 7.000 – 8.000 per Kg.  Selain itu, pakan tersebut didapatkan dari toko yang letaknya cukup jauh, sehingga kurang efektif dari segi transportasi pakan.  Dari segi kualitas, pakan yang dibuat oleh Pak Rasyid  diakui lebih baik dibanding pakan komersil lainnya.   Saat ini, Pak Rasyid telah banyak mendapatkan pendampingan dari instansi lain untuk memperbaiki bisnis proses yang dilakoninya.  Beberapa bantuan terlihat di rumah sekaligus sebagai pabrik mini pakan beliau.  “Kadang permintaan yang banyak sehingga harus melalui sistem pemesanan, apalagi ketika musim budidaya”jelas Pak Rasyid.  Perbaikan kualitas yang diperlukan berupa perbaikan sistem sanitasi berupa gudang bahan baku, gudang pakan, tempat pengeringan, pengadaan peralatan oven untuk pengeringan.  “Saya menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT karena dapat terus didampingi oleh tim Pak Usman, sehingga saya tidak kesulitan untuk konsultasi mengenai bahan baku dan menjaga kualitas pakan saya” ungkap Pak Rasydi di akhir diskusi.

Kepala BRSDM KP melakukan Penebaran Bibit Udang Windu Pada Kegiatan Inovasi Teknologi Adaptif Perikanan (INTAN) Minapadi Air Payau PANDU (Padi Udang Windu)

Barru_Kamis 25/10/18. Sebuah terobosan baru untuk areal persawahan yang tak produktif di Barru. Terutama di kawasan pesisir sebuah program penggabungan antara komoditas padi dengan udang windu dalam satu areal. Integrasi dua teknologi tersebut menjadi suatu inovasi teknologi minapadi air payau Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menginisiasi program minapadi yang dipadu dengan budidaya udang. Program ini disebut Inovasi Teknologi Adaptif Perikanan Minapadi Air Payau, selanjutnya disingkat INTAN-AP. Dengan program INTAN-AP dimaksudkan untuk mengoptimalkan fungsi lahan yang terintrusi air laut dibeberapa lokasi khususnya di Sulawesi Selat. Kegiatan ini di kolaborasikan antara Pusat Riset Keluatan Perikanan, BPP Padi Sukamandi dan Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Perikanan Maros

INTAN-AP merupakan salah satu langkah guna meminimalisasi alih fungsi lahan menjadi pemukiman, termasuk lahan idle yang terintrusi air laut. Alih fungsi lahan produkif dapat mengancam ketahanan pangan nasional. Dengan metode ini diharapkan alih fungsi lahan dapat berkurang dan dapat meningkatkan produktivitas pembudidaya dan meningkatkan ketahanan pangan nasional (KKP, 2013). Luas lahan yang digunakan untuk kegiatan  INTAN Pandu seluas kurang lebih 1 ha yang terdiri dari 0,92 ha untuk kegiatan budidaya padi dan udang windu dan sisanya sekitar 0,08 ha untuk tandon (penampungan air payau) yang berlokasi di Dusun Oring Desa Lawallu, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru.

Di tahap awal telah dilakukan Penebaran benih padi di lahan pesemaian dan beberapa bulan kemudian selanjutnya dilakukan  penanaman benih padi di lahan Pandu dan kemudian di tahap selanjutnya yaitu penebaran bibit udang windu sekitar 4.200 ekor benih yang ditebar di area INTAN-AP, kegiatan penebaran bibit udang windu ini  dilakukan bersama Kepala BRSDM KP Prof. Ir. R. Sjarief Widjaja, Ph.D, FRINA Kepala Puriskan Perikanan Dr. Ir Toni Ruchimat M.Sc, Kepala BRPBAP3 Maros Prof Dr. Ir. Andi Akhmad Mustafa M.P didampingi Kabid Budidaya Puriskan, Sekda Kabupaten Barru peneliti BPP Padi Sukamandi, peneliti BRPBAP3, Kepala Instalasi IPUW Barru, penyuluh perikanan Kabupaten Barru serta petani di lokasi Pandu tersebut.

 

 

 

Di Barru Ada Lahan Padi Sekaligus Tambak, Begini Caranya

FAJARONLINE.CO.ID, BARRU — Sebuah terobosan baru untuk areal persawahan yang tak produktif di Barru. Terutama di kawasan pesisir. Sebuah program penggabungan antara komoditas padi dengan udang windu dalam satu areal.

Lokasi pengembangan ini di Desa Lawallu, Kecamatan Soppeng Riaja. Lahan sekitar satu hektar, lahan padi tumbuh sementara disisi lain ada udang windu.

Program ini, kata Kepala Badan Riset dan Sumber daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDMKP), Syarif Widjaya, adalah hal baru. Ini upaya peningkatan kesejahteraan petani.

Sungguh banyak lahan sawah di daerah pesisir menjadi tidak produktif akibat intrusi air laut. Dengan program Mina Padi air payau Pandu (padi dan udang windu), lahan menjadi lebih menghasilkan.

Bisa dibayangkan satu lahan tak hanya menghasilkan beras tapi juga udang. Dalam satu kawasan lahan, persentasenya, 70 persen padi dan 30 persen untuk ‘subungkuk’. “Kami melihat ada sisi yang bisa menghasilkan, ini yang tengah dilakukan saat ini,” ujarnya.

Pada luas lahan satu hektar di Desa Lawallu ini, sedikitnya ada 5000 ekor bibi benur udang windu yang ditebar. (rus)

Sumber :http://fajaronline.co.id/read/61021/di-barru-ada-lahan-padi-sekaligus-tambak-begini-caranya

Audit Internal ISO/IEC 17025 Laboratorium Penguji BRPBAP3 Maros

Maros_Telah dilakukan  di Laboratorium Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan BRPBAP3 Maros pada tanggal 23 s/d 24 Oktober 2018, yang bertujuan untuk mengukur keefektifan dan konsistensi penerapan sistem manajemen mutu ISO/IEC 17025.

Diharapkan ketidaksesuaian yang ditemukan dapat dieliminir. Audit internal tahun ini dilakukan oleh 3 Auditor yang kompeten. Ir. Muliani, M.Si (auditor kepala) dan Dr. Ince Ayu Khairani K, M.Agr (auditor anggota) mengaudit persyaratan teknis dan Bimo Adiprianggoro, S.Ap (auditor anggota) mengaudit persyaratan manajemen pada Bagian Administrasi Lab.

Pada tanggal 24 Oktober 2018 dilakukan penyampaian hasil temuan Audit, yang dipimpin oleh Auditor Kepala. Hal-hal yang disampaikan adalah temuan ketidaksesuaian, serta tanggapan auditee dari lab terkait.Perbaikan hasil temuan diselesaikan sesuai waktu yang disepakati antara auditor dan auditee.Pelaksanaan audit internal ditutup oleh Kepala Balai Prof. Dr. Ir. A. Akhmad Mustafa, M.P

Presentasi dan Penarikan Siswa SMKN 8 Sidrap Yang Telah Melaksanakan Kegiatan PKL di IPUW Barru

Barru_Salah satu kewajiban bagi seluruh siswa/mahasiswa yang telah melaksanakan kegiatan baik penelitian,magang ataupun praktek di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAP3) Maros yaitu pembuatan laporan sampai memaparkan (presentasi) hasil kegiatan,

Seperti halnya yang harus dilakukan oleh siswa SMKN 8 Sidrap yang telah melaksanakan kegiatan Praktek Kerja Lapang (PKL) selama kurang lebih 3 bulan  Di Instalasi Pembenihan Udang Windu dan Kepiting Bakau (IPUW Barru) sebelum dilakukan penarikan kembali ke sekolahnya yaitu mempresentasikan hasil kegiatan PKL.

Sebanyak 10 orang siswa mempresentasikan hasil kegiatan mereka dengan berbagai judul kegiatan  yang dilaksanakan di Aula kantor IPUW Barru Selasa, 23 Oktober 2018 yang dihadiri para pembimbing masing-masing, siswa PKL SMK 1 Nunukan, penanggung  jawab siswa/mahasiswa IPUW Barru, guru SMKN 8 Sidrap dan Kasubseksi pelayanan teknis BRPBAP3.

Dan harapan peserta untuk kegiatan presentasi ini  bertujuan agar siswa dapat memahami/mengaplikasikan kegiatan yang mereka lakukan selama melaksanakan kegiatan  PKL, presentasi ini bukan hanya dilakukan di tempat PKL, tapi nantinya juga setelah kembali ke sekolah hasil kegiatan merekan juga akan di presentasikan.

 

Dosen University Malaysia Terengganu Berikan Kuliah Umum Di BRPBAP3

Maros_ Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan BRPBAP3 Maros menggelar kuliah umum mengenai Algae and their Environmental Applications  dengan menghadirkan narasumber Dr.Emienour Muzalina Mustafa (Senior Lecturer at University Malaysia Terengganu). Kuliah umum ini dihadiri oleh seluruh peneliti ,teknisi dan mahasiswa yang sedang  melakaksanakan kegiatan PKL lingkup BRPBAP3 Senin, 22/10/18.

Kuliah umum yang diprakarsai oleh Pelayanan Teknis dan Sarana BRPBAP3 ini bertujuan sebagai sarana untuk berkomunikasi, berbagi pengalaman dan ilmu mengenai Ganggang dan Aplikasi Lingkungan.Materi tentang Algae and their Environmental Applications dapat di unduh di bawah ini.

Algae and Their Environmental Application